| Noordin M. Top dan Jaringannya Yang Cenderung Anggota Jemaah Islamiyah |
| Ditulis oleh Administrator | |
| Minggu, 16 Agustus 2009 13:51 | |
|
Noordin M. Top saat ini merupakan salah satu orang yang paling dicari polisi di republik. Laki-laki berumur 41 tahun ini dituduh terlibat dalam sejumlah pengeboman di Indonesia, sejak tahun 2002. Mulai dari kasus Bom Bali I hingga Bom Marriot II. Noordin M. Top adalah anggota Jemaah Islamiyah Malaysia. Dia pernah memimpin Pesantren Luqmanul Hakiem, Johor, yang menjadi sarang Jemaah Islamiyah di Malaysia. Pondok pesantren ini muncul pada tahun 1992 dan telah dibredel pemerintah Malaysia awal tahun 2002. Pesantren ini didirikan oleh Abdullah Sungkar, tokoh dari Pesantren Ngruki, Jawa Tengah, dan saat itu Mukhlas alias Ali Ghufron ditunjuk memimpin pondok Luqmanul Hakiem. Pesantren Luqmanul Hakiem menjadi Mantiqi I, yaitu pengendali Jemaah Islamiyah untuk wilayah Malaysia, Brunei dan Singapura. Sedangkan Jemaah Islamiyah disebut-sebut berhubungan Al-Qaedah yang dipimpin Osama bin Laden, Mujahidin Afghanistan dan Moro selama kurun waktu 1985-2000. Tetapi hubungan organisasi ini hanya pada kesamaan ideologisnya, bukan dalam struktur organisasi. Noordin M. Top mulai datang ke Pesantren Luqmanul Hakiem sejak tahun 1995. Ketika itu Noordin masih mahasiswa Universiti Teknologi Malaysia. Ia juga ikut belajar, hingga kemudian menjadi guru di Luqman Hakiem. Noordin juga pernah menjadi kepala sekolah Pesantren Luqmanul Hakiem pada tahun 1998. Pesantren Luqmanul Hakiem bubar pada awal tahun 2002, setelah pemerintah Malaysia tak menerima kehadiran Jemaah Islamiyah. Bahkan, pada tahun 2001 aparat keamanan di sana menguber-uber anggota Jemaah Islamiyah yang ada di Malaysia. Pentolan Jemaah Islamiyah Mantiqi I menjadi cerai berai dan mereka melarikan diri dari Malaysia kemudian masuk ke Indonesia. Noordin M. Top minggat ke Riau awal tahun 2002. Dia membawa isteri dan iparnya, Muhammad Rais, dan bermukim di Desa Pendekar Bahar, Bangko, Rokan Hilir, Riau. Setengah tahun di sini, Noordin pindah ke Bukittinggi, Sumatera Barat dan mereka membuka bengkel mobil. Setiap hari mereka berada di sebuah Bengkel di Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Noordin M. Top menjadi pendatang baru yang tak mencurigakan di kawasan ini. Di sinilah dia mulai intens menjalin hubungan dengan koneksi Luqmanul Hakiem-nya. Dari Bukittinggi, Noordin dan jaringannya (Jemaah Islamiyah) merancang berbagai teror. Kepada pengikutnya, dia berdalil harus melakukan bom jika sedang diserang musuh-musuhnya. Ketika beraksi Noordin menggunakan nama sandi Aiman, ini adalah penggalan nama orang kedua di Al Qaeda yaitu Aiman Zawaheri. Noordin M. Top dan Jaringannya Berikut ini adalah nama-nama jaringan yang terlibat dengan aksi teror bom-nya Noordin M. Top (diluar nama-nama yang terlibat dalam peledakan bom JW.Marriot dan Ritz Carlton tahun 2009), baik yang telah tertangkap (hidup atau mati), maupun yang masih bebas berkeliaran: Munfiatun Munfiatun adalah wanita yang menjadi istri kedua Noordin M. Top yang dinikahi pada tahun 2002. Munfiatun adalah mahasiswi di Universitas Brawijaya Malang. Dia telah menjalani hukuman 3 tahun penjara di Malang. Zulkarnaen alias Aris Sumarsono Zulkarnaen dengan nama asli Aris Sumarsono yang dikenal sebagai Jenderalnya para Laskar Istimata adalah Kepala operasi militer Jemaah Islamiyah, anggota komando pusat. Dia berasal dari Sragen, Jawa Tengah, dan juga pelajar Ngruki pada tahun 1975-1980. Veteran Afghanistan ini bertugas sebagai instruktur di kursus pelatihan militer dekat Waimurat, Buru. Zulkarnaen hingga saat ini masih berada dalam persembunyiannya. Setelah Bom Bali di tahun 2002 tidak pernah terdengar lagi keberadaannya. Umar Wayan Umar Wayan alias Abdul Ghoni adalah instruktur kursus pelatihan militer di dekat Waimurat, Buru, Maluku pada tahun 1999. Dia juga anggota Jemaah Islamiyah dan salah seorang veteran Afghanistan yang terlibat Bom Bali I. Umar Wayan telah dipenjara dengan hukuman seumur hidup sejak tahun 2004. Mohamed Rais Mohamed Rais berkewarganegaraaan Indonesia adalah saudara ipar Noordin yang warga Malaysia. Rais adalah lulusan Ngruki, lalu menjadi instruktur di Luqmanul Hakiem dan lama tinggal di Malaysia. Menjadi Jemaah Islamiyah sejak tahun 1995 dan menjadi Mantiqi I JI wakalah Johor. Setelah Luqmanul Hakiem ditutup pemerintah Malaysia, Rais dan Noordin pindah ke Bukittinggi, Sumatera Barat, pada tahun 2002. Rais membantu Noordin dalam meledakkan JW Marriott pada 2003. Akhir April 2003, dia ditangkap. Hakim menghukumnya 7 tahun penjara pada Mei 2004. Mohamed Ihsan Mohamed Ihsan juga dikenal Jhoni Indrawan alias Gembrot alias Idris. Dia anggota Jemaah Islamiyah dari Riau, juga tercatat pernah di Ngruki. Terlibat dalam pemboman malam natal tahun 2000 di Pekanbaru, peran kecil di Bali tahun 2002, Bomb Marriott. Sejak 2004 Mohamed Ihsan telah dipenjara dengan hukuman 10 tahun kurungan. Subur Sugiarto Inilah pembuat video testamen terakhir para pelaku bom bunuh diri Bali II. Dia dibekuk pada Januari 2006. Terungkap juga, Subur adalah kurir Noordin, dan terlibat perampokan telepon selular di Pekalongan pada September 2005. Sebanyak 14 telepon seluler digunakan kelompoknya. Setelah Bom Bali, dia memimpin kursus pelatihan militer singkat di lereng Gunung Ungaran, Semarang. Toni Togar Toni Togar alias Indrawarman adalah orang Medan yang menjadi anggota Jemaah Islamiyah. Basis jebolan Pondok Ngruki angkatan 1990 ini di Medan, Sumatra Utara. Buah tangannya adalah bom malam natal 2000. Toni juga yang menyimpan bahan-bahan peledak dari operasi malam natal ini. Sisa bahan bom inilah yang kemudian dijadikan Noordin untuk mengebom Marriot. Toni telah dihukum 12 tahun penjara sejak tahun 2004. Tohir Masrizal bin Ali Umar alias Tohir. Lulusan dari Pondok Ngruki pada tahun 1994 dan juga menjadi anggota Jemaah Islamiyah. Tohir pernah menjadi guru di Pesantren Luqmanul Hakiem pada tahun 1998. Tohir terlibat dalam peledakan Hotel Marriot pada tahun 2003. Dia dihukum sepuluh tahun penjara sejak September 2004. Anif Solchanudin Anif Solchanudin sempat direkrut sebagai pelaku bom bunuh diri yang keempat untuk Bomb Bali II. Belakangan ditangkap pada November 2005, dengan tuduhan menampung Noordin. Syaiful Bahri Syaiful Bahri berasal dari Cigarung, Sukabumi, awalnya sempat terpilih sebagai calon pelaku bom bunuh diri. Ditangkap November 2004 di Bogor, dijatuhi hukuman 10 tahun penjara, September 2005. Sardona Siliwangi Sardono Siliwangi alias Dona bin Azwar. Lulusan Pondok Ngruki ini menjadi anggota Jemaah Islamiyah di Bengkulu. Rumahnya di Bengkulu pernah digunakan untuk menyimpan bahan-bahan peledak yang digunakan untuk meledakkan Marriott pada 2003. Ditangkap pada Mei 2003, dijatuhi hukuman 8 tahun penjara. Joni Achmad Fauzan Dalam data kepolisian dia adalah salah seorang yang mensurvei lokasi target peledakan di Jawa Timur. Dilakukan bersama Joko Harun dan Ali Zein atas perintah Noordin pada 2005. Pria ini juga alumni Pondok Ngruki. Dia dijatuhi hukuman 6 tahun penjara pada April 2006. Jabir Gempur Budi Angkoro alias Jabir telah tewas pada 29 April 2006, dalam sebuah penggerebekan teroris di Wonosobo, Jawa Tengah. Jabir tercatat sebagai anggota Jemaah Islamiyah. Juga pernah menimba ilmu di Pondok Ngruki pada tahun 1993-1996. Bahkan sudah sejak awal membantu Noordin dan diduga bertanggungjawab merekrut Salik Firdaus (pelaku bom bunuh diri di Bom Bali II). Joko Triharmanto Joko Triharmanto alias Joko Harun, alias Harun. Namanya muncul karena menyembunyikan Noordin pada tahun 2005. Dijatuhi hukuman 6 tahun penjara pada Januari 2006. Zulkifli bin Hir Zulkifli alias Marwan dan alias Taufik, pernah ditangkap berkaitan dengan pemboman Atrium Mall, Jakarta, pada 2001. Warga negara Malaysia ini kini berada di Mindanao, Filipina, bersama Dulmatin dan Umar Patek. Misno Pelaku bom bunuh diri di Cafe Manega, Jimbaran, Bali pada tanggal 1 Oktober 2005. Mohamed Saifuddin Mohamed Saifudin adalah veteran Ambon ini membantu mempertemukan Sunata dan Noordin. Pergi menuju Filipina, akhir tahun 2004, ditangkap setibanya di Zamboanga, Desember 2004. Saat ini ditahan di Filipina. Muchtar Muchtar alias Ilyas, merupakan veteran Afghanistan adalah seorang Jemaah Islamiyah yang menjadi istruktur militer di Waimarut, Pulau Buru pada 1999. Keberadaannya hingga saat ini tidak diketahui. Mus’ab Sahidi Dia memiliki peran menyembunyikan Noordin dalam pelarian. Latar belakang dalam gerakan seperti Jemaah Islamiyah tak begitu jelas. Nasir Abas Nasir Abas berkewarganegaraan Singapura ini adalah mantan ketua Mantiqi III Jemaah Islamiyah. Nasir Abas ini kini sering berada di Indonesia, tetapi dikabarkan sudah tak aktif lagi dalam pergerakan Jemaah Islamiyah. Purnama Putra Purnama Putra juga disebut Tikus karena bertubuh kecil, alias Usman, alias Usamah, alias Ipung, alias Uus. Dia sebenanya pengikut Abdullah Sunata. Sempat bertemu Noordin hingga 12 kali. Dijatuhi hukuman tujuh tahun, April 2006. Qotadah Anggota senior Mantiqi II terlibat dalam pelatihan penyegaran setelah bom Bali. Lelaki yang juga dikenal dengan nama Basyir ini bertemu dengan Noordin sesudah dan sebelum pengeboman Bali. Bersamanya ikut serta Abu Dujanah. Salik Firdaus Pelaku bom bunuh diri di Cafe Nyoman, Jimbaran, Bali 1 Oktober 2005. Lahir tahun 1981, Cikijing, Majalengka, Jawa Barat. Sempat tinggal di Darusyahadah, mengajar di pesantren al-Mutaqien, Cirebon. Saptono Saptono berperan sebagai instruktur di kamp pelatihan militer yang dibentuk Rois di Gunung Peti, Cisolok, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Usman bin Sef Usman bin Sef adalah Ketua Jemaah Islamiyah wakalah Jawa Timur, dia membantu melindungi Noordin M. Top setelah peristiwa pengeboman JW Marriott pada 2003. Polisi juga menuduhnya yang mencarikan tambahan bahan peledak untuk Noordin. Suramto Suramto berperan sebagai kurir Abu Dujanah. Laki-laki ini memakai banyak nama alias, di antaranya adalah Mohammad Faiz alias Deni alias AhmadLahir. Peria kelahiran Sukoharjo ini juga lulusan Ngruki, Pesantren al-Husein, Indramayu, dan Universitas an-Nur. Bekerja sebagai pengkotbah di Yayasan Darussalam, Surabaya pada tahun 1997-2000. Ubeid Lutfi Hudaeroh alias Ubeid. Lulusan Ngruki ini kepercayaan Noordin, dan menjadikannya sebagai kurir. Anggota Jemaah Islamiyah yang lancar berbahasa Arab ini juga pernah berada Mindanao. Dihukum 3,5 tahun penjara pada Mei 2005. Son Hadi Son Hadi juga jebolan Pondok Ngruki, bekerjasama dengan Fahim di Yayasan Darussalam. Dituduh anggota wakalah Jemaah Islamiyah sejak tahun 1997. Dihukum 4 tahun penjara pada Mei 2005. Umar Umar alias Heri. Dia membantu pelatihan militer para tersangka pemboman Kedutaan Besar Australia. Umar adalah anggota Jemaah Islamiyah yang ditangkap pada Januari 2006. Umar Patek Umar Patek adalah tokoh Jemaah Islamiyah yang berada di balik Bom Bali. Kini bersama Dulmatin beradan Mindanao,Filipina. Urwah Bagus Budi Pranoto alias Urwah, pria ini membantu Rois beraksi dalam operasi pengeboman Kedutaan Besar Australia yang dipimpin Noordin M. Top tahun 2004. Bagus Budi Pranoto pernah menempuh pendidikan di pesantren al-Mutaqien, Jepara. Dijatuhi hukuman penjara 3,5 tahun, pada Mei 2005. Hits: 145
Comments (0)
Write comment
|